Powered By Blogger

Kamis, 13 Maret 2014

makalah carl rogers

BAB IPENDAHULUAN A.    Latar Belakang MasalahTeori Humanistik lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia / individu. Psikolog humanistik mencoba untuk melihat kehidupan manusia sebagaimana manusia melihat kehidupan mereka. Mereka berfokus pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional untuk dalam mengendalikan hasrat biologisnya, serta dalam meraih potensi maksimal mereka. Dalam pandangan humanistik, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.Tokoh psikologi humanistik selain Abraham Maslow ialah Carl Rogers ( 1902-1987 ). Carl Rogers menjadi sangat terkenal karena metode terapi yang dikembangakannya, yaitu terapi yang berpusat pada individu atau yang lebih dikenal dengan Teori Nondirektif.Secara luas lagi mengenai teori ini akan dibahas di bab pembahasan pada makalah ini. Dari sosok Carl Rogers dengan teorinya yang begitu fenomenal, dan berbeda dibanding yang lain, penyusun bermaksud membahasnya dengan menitikberatkan pada pokok-pokok teori Rogers dan teori yang dikembangkannya. B.  Rumusan Masalah1. Bagaimana sudut pandang Carl Rogers sebagai tokoh humanistik tentang Teori Humanistik?2. Bagaimanakah konsep diri (self), organisme, dan aktualisasi diri (medan fenomenal) sebagai bagian pokok teori Carl Rogers?3. Bagaimanakah aplikasi metode teori psikoterapi yang dikemukakan oleh Carl Rogers? C.  Tujuan Masalah1. Mengetahui sudut pandang Carl Rogers sebagai tokoh humanistik tentang Teori Humanistik.2.  Mengetahui tentang konsep diri (self), organisme, dan aktualisasi diri (medan fenomenal)    sebagai bagian pokok teori Carl Rogers.3.  Mengetahui aplikasi metode teori psikoterapi yang dikemukakan oleh Carl Rogers. BAB IIPEMBAHASAN A.   Sudut Pandang Carl Rogers Sebagai Tokoh Humanistik Tentang Teori Humanistik.Sepanjang sejarah keinginan manusia untuk mengetahui sebab-sebab tingkah lakunya dan semenjak psikologi menjadi pengetahuan yang otonom, masalah aspek kejiwaan yang mengatur, membimbing dan mengontrol tingkah laku manusia selalu timbul dan menjadi persoalan. Pengertian umum mengenai  iner entity ini adalah jiwa (soul). Menurut teori “jiwa” gejala-gejala kejiwaan (mental phenomena) dianggap sebagai pencerminan substansi khusus yang secara khas berbeda dari subtansi dari subtansi kebendaan. Dalam teori keagamaan jiwa itu dipandang sebagai abadi, bebas dan asalnya suci.Rogers menyebut dirinya sebagai orang yang berpandangan humanistik dalam psikologi kontemporer. Psikologi humanistik dari satu pihak menentang apa yang disebut sebagai pesimisme suram dan keputusasaan yang terkandung dalam pandangan psikoanalitik tentang manusia dan di lain pihak menentang konsepsi robot tentang manusia yang digambarkan dalam behaviorisme. Psikologi humanistik lebih  penuh harapan dan optimistik tentang manusia. Ia yakin bahwa dalam diri setiap orang terdapat potensi-potensi untuk menjadi sehat dan tumbuh secara kreatif. Kegagalan dalam mewujudkan potensi-potensi ini disebabkan oleh pengaruh yang bersifat menjerat dan keliru dari latihan yang diberikan oleh orang tuanya, serta pengaruh-pengruh sosial lainnya. Namun pengaruh-pengaruh yang merugikan ini dapat diatasi apabila individu mau menerima tanggung jawab untuk hidupnya sendiri. Rogers yakin apabila tanggung jawab ini di terima, maka kita akan segera melihat kalau saja represi perbudakan yang meliputi seluruh dunia dapat dicegah, munculnya seorang pribadi baru yang penuh kesadaran, mengarahkan dirinya sendiri, seorang yang menjelajah dunia batin lebih dari pada dunia luar, yang memandang sikap serba tunduk pada kebiasaan-kebiasaan pada dogma tentang autoritas.     Teori  Rogers  juga mempunyai kesamaan dengan psikologi ekstensial. Yang pada dasarnya teori ini  adalah fenomenologis, artinya Rogers memberikan tekanan yang kuat pada pengalaman-pengalaman sang pribadi, perasaan-perasaan dan nilai-nilainya, dan semua yang teringkas dalam ekspresi “kehidupan batin”. Dari pengalaman-pengalaman inilah mula-mula Rogers mengembangkan teori tentang terapi dan perubahan kepribadian. Ciri utama konseptualisasi dari proses terapeutik ini adalah bahwa para  klien mempersepsikan bahwa ahli terapi memiliki “unconditional positive regard” (penghargaan positif tanpa syarat) terhadap mereka dan suatu pemahaman empatik terhadap kerangka acuan internal (internal frame of reference) mereka, maka proses perubahan mulai bergerak. Selama proses ini, klien-klien semakin lebih menyadari perasaan dan pengalaman mereka yang sebenarnya dan konsep diri mereka menjadi lebih selaras dengan seluruh pengalaman organisme.Apabila keselarasan yang bulat tercapai, maka klien akan menjadi orang yang berfungsi sepenuhnya. Menjadi orang  yang berfungsi sepenuhnya meliputi sifat-sifat seperti keterbukaan terhadap pengalaman, tidak adanya sifat defensif, kesadaran yang cermat, penghargaan diri tanpa  syarat, dan hubungan yang harmonis dengan orang-orang lain.                   B.   Konsep Diri (self concept), Organisme, dan Aktualisasi Diri (medan fenomenal) Sebagai Bagian Pokok Teori Carl Rogers.
a.      Struktur KepribadianAda dua konstruk yang sangat penting dalam teori Rogers dan bahkan dapat dianggap sebagai tempat berpijak bagi seluruh teorinya. Kedua teori ini adalah organisme dan diri (self). Secara psikologis, organisme adalah lokus atau tempat dari seluruh pengalaman. Pengalaman meliputi segala sesuatu yang secara potensial terdapat dalam kesadaran organisme pada setiap saat. Keseluruhan pengalaman ini merupakan medan fenomenal. Medan fenomenal adalah “frame of reference” dari individu yang hanya dapat diketahui oleh orang itu sendiri. Medan fenomenal tidak identik dengan medan kesadaran. Kesadaran adalah perlambangan dari sebagian pengalaman kita. Dengan demikian, medan fenomenal terdiri dari pengalaman sadar (dilambangkan) dan pengalaman tak sadar (tidak dilambangkan). Akan tetapi, organisme dapat membedakan kedua jenis pengalaman tersebut dan bereaksi terhadap pengalaman yang tidak dilambangkan. Rogers menyebut peristiwa ini subsepsi (subception).Pengalaman mungkin tidak tepat dilambangkan, akibatnya orang bertingkah laku secara tidak serasi. Uji terhadap kenyataan ini memberikan orang pengetahuan yang dapat diandalkan tentang dunia sehingga dengan demikian orang dapat bertingkah laku secara realistik. Namun beberapa ada yang tidak di uji sehingga dapat menyebabkan orang bertingkah laku tidak realistik dan akan merugikan diri sendiri.Rogers memecahkan paradoks dengan menyimpang dalam rangka pemikiran fenomenologi murni. Meskipun ia tidak menyinggung tentang kenyataan yang sebenarnya, namun jelas orang-orang harus memiliki konsepsi tentang standart kenyataan luar atau impersonal, apabila tidak demikian maka tidak dapat menguji kenyataan batin (subjektif) dan kenyataan objektif. Dari sini orang berusaha membedakan keduanya melalui hipotesis tentang kenyataan benar atau salah. Orang akan menunda keputusannya sampai ia menguji hipotesis tersebut. Misalnya, seseorang yang akan menggarami makanannya berhadapan dengan dua tempat bumbu. Satu diantaranya berisi garam dan yang lainnya berisi merica. Orang tersebut mengira bahwa tempat yang berlubang besar adalah garam, tetapi karena tidak yakin maka ia menuangkan sedikit isinya pada telapak tangannya. Apabila partikel-partikel yang keluar adalah putih dan bukan hitam, maka orang tersebut boleh merasa yakin bahwa itu garam. Orang yang sangat teliti mungkin merasa perlu mencicipinya sedikit, sebab bisa jadi itu merica putih dan bukan garam. Apa yang dikemukakan dengan contoh ini adalah suatu pengujian ide-ide seseorang dengan berbagai data inderia. Pengujian tersebut merupakan pengecekan informasi yang belum pasti melalui pengetahuan yang lebih langsung. Dalam kasus ini, ujian terakhir adalah rasanya, suatu cita rasa tertentu bahwa itu garam.Contoh tadi menggambarkan suatu kondisi ideal. Menurut Rogers, pribadi yang utuh adalah orang yang sepenuhnya terbuka pada data yang dialami dalam dirinya dan data yang dialaminya dari dunia luar. Sebagian dari medan fenomenal lama kelamaan akan terpisah. Ini adalah diri. Diri atau konsep diri merupakan gestalt konseptual yang terorganisasi dan konsisten yang terdiri dari persepsi-persepsi tentang sifat-sifat tentang diri subyek atau diri objek dan persepsi-persepsi tentang hubungan-hubungan antara diri subyek atau diri objek dengan orang-orang lain dan dengan berbagai aspek kehidupan beserta nilai-nilai yang melekat pada persepsi ini.Disamping diri sebagaimana adanya, terdapat suatu diri ideal. Yaitu tentang apa yang diinginkan orang tentang dirinya. Pentingnya konsep-konsep struktural, menjadi jelas pada pembahasan Rogers tentang kongruensi dan inkongruensi antara diri sebagaimana dipersepsikan dan pengalaman aktual organisme.1.  IncongruenceIncongruence adalah ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan batin.2.  CongruenceCongruence berarti situasi dimana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan sejati.Menurut Rogers, para orang tua akan memacu adanya incongruence ini ketika mereka memberikan kasih sayang yang kondisional kepada anak-anaknya. Orang tua akan menerima anaknya hanya jika anak tersebut berperilaku sebagaimana mestinya, anak tersebut akan mencegah perbuatan yang dipandang tidak bisa diterima. Disisi lain, jika orang tua menunjukkan kasih sayang yang tidak kondisional, maka si anak akan bisa mengembangkan congruence-nya. Remaja yang orang tuanya memberikan rasa kasih sayang kondisional akan meneruskan kebiasaan ini dalam masa remajanya untuk mengubah perbuatan agar dia bisa diterima di lingkungan.
Dampak dari incongruence adalah Rogers berfikir bahwa manusia akan merasa gelisah ketika konsep diri mereka terancam. Untuk melindungi diri mereka dari kegelisahan tersebut, manusia akan mengubah perbuatannya sehingga mereka mampu berpegang pada konsep diri mereka. Manusia dengan tingkat incongruence yang lebih tinggi akan merasa sangat gelisah karena realitas selalu mengancam konsep diri mereka secara terus menerus.Contoh: Erin yakin bahwa dia merupakan orang yang sangat dermawan, sekalipun dia seringkali sangat pelit dengan uangnya dan biasanya hanya memberikan tips yang sedikit atau bahkan tidak memberikan tips sama sekali saat di restoran. Ketika teman makan malamnya memberikan komentar pada perilaku pemberian tipsnya, dia tetap bersikukuh bahwa tips yang dia berikan itu sudah layak dibandingkan pelayanan yang dia terima. Dengan memberikan atribusi perilaku pemberian tipsnya pada pelayanan yang buruk, maka dia dapat terhindar dari kecemasan serta tetap menjaga konsep dirinya yang katanya dermawan.Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang lain. Perkembangan diri dipengaruhi oleh cinta yang diterima saat kecil dari seorang ibu. Kebutuhan ini disebut need for positive regard, yang terbagi lagi menjadi 2 yaitu conditional positive regard (bersyarat) dan unconditional positive regard (tak bersyarat).• Jika individu menerima cinta tanpa syarat, maka ia akan mengembangkan penghargaan positif bagi dirinya (unconditional positive regard) dimana anak akan dapat mengembangkan potensinya untuk dapat berfungsi sepenuhnya.• Jika tidak terpenuhi, maka anak akan mengembangkan penghargaan positif bersyarat (conditional positive regard). Dimana ia akan mencela diri, menghindari tingkah laku yang dicela, merasa bersalah dan tidak berharga.Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positif tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan.            b.      Dinamika KepribadianOrganisme mempunyai satu kecenderungan dan kerinduan dasar yakni mengaktualisasikan, mempertahankan, dan mengembangkan organisme yang mengalami. Kecenderungan  untuk mengaktualisasi ini bersifat selektif, menaruh perhatian hanya pada aspek-aspek lingkungan yang memungkinkan orang bergerak secara konstruktif kearah pemenuhan dan kebulatan. Di satu pihak terdapat satu kekuatan yang memotivasikan, yakni dorongan untuk mengaktualisasikan iri, di lain pihak hanya ada satu tujuan hidup, yakni menjadi pribadi yang teraktualisasikan dirinya atau pribadi yang utuh.Organisme mengaktualisasikan dirinya menurut garis-garis yang diletakan oleh hereditas. Ketika organism itu matang, maka ia makin berdiferensasi, makin luas, makin otonom, dan makin tersosialisasikan. Tedensi dasar pertumbuhan ini-mengaktualisasikan dan mengekspansikan diri sendiri- tampak paling jelas sekali bila individu di amati dalam suatu jangka waktu yang lama. Ada suatu gerak maju pada kehidupan setiap orang; tendensi yang tak henti-hentinya inilah yang merupakan satu-satunya kekuatan yang benar-benar dapat diandalkan oleh ahli terapi untuk mengadakan perbaikan dalam diri klien.Rogers menambahkan suatu cirri baru pada konsep pertumbuhan ketika ia mengamati bahwa tendensi  gerak maju hanya dapat beroprasi bila pilihan-pilihan dipresepsikan dengan jelas dan dilambangkan dengan baik. Seseorang tidak dapat mengaktualisasikan dirinya kalau ia tidak dapat membedakan antara cara-cara tingkah laku progresif dan regresif. Tidak ada suara hati dari dalam yang akan memberitahu seseorang manakah jalan kemajuan itu, tidak ada keharusan organismik yang akan mendorongnya maju. Orang harus mengetahui sebelum mereka dapat memilih, tetapi bila mereka benar-benar mengetahui maka mereka selalu memilih untuk bertumbuh dan bukan untuk mundur.Pada dasarnya tingkah laku adalah usaha organisme yang berarah tujuan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhannya sebagaimana dialami, dalam medan sebagaimana medan itu persepsikan. Pernyataan yang jelas-jelas menyinggung tentang adanya banyak “kebutuhan” ini tidak berlawanan dengan pengertian motif tunggal. Meskipun da banyak kebutuhan, namun semuanya mengabdi kepada tendensi dasar organisme untuk mempertahankan dengan mengembangkan diri.    Pada tahun 1959, Rogers mengemukakan perbedaan antara tendensi mengaktualisasikan pada organism dan tendensi mengaktualisasikan diri.Menyusul perkembangan struktur diri tendensi umum kearah aktualisasi ini juga muncul dalam aktualisasi bagian pengalaman organisme yang dilambangkan dalam diri. Apabila diri da seluruh pengalaman organisme sesuai , maka tendensi aktualisasi tetap padu. Apabila diri  dan pengalaman tidak selaras maka tendensi umum untuk mengaktualisasikan organisme mungkin berlangsung dengan tujuan yang berlawanan dengan subsistem motif tersebut, yakni tendensi untuk mengaktualisasikan diri (1959, halaman 196-197).”Meskipun teori Rogers tentang motivasi bersifat monistik, ia telah memberi perhatian khusus pada dua kebutuhan, yakni kebutuhan akan penghargaan yang positif dan kebutuhan akan harga diri. Keduanya adalah kebutuhan yang dipelajari. Kebutuhan yang pertama terjadi pada masa bayi sebagai akibat karena bayi dicintai dan diperhatikan, dan kebutuhan yang kedua terbentuk karena bayi menerima penghargaan positif dari positif dari orang lain. Kedua kebutuhan ini, sebagaimana akan kita lihat pada bagian berikut, bisa juga berselisih tujuan dengan tendensi aktualisasi dengan mendistorsikan pengalaman-pengalaman organisme.            c.       Perkembangan KepribadianMeskipun organisme dan diri mempunyai tendensi inhern untuk mengaktualisasikan diri, namun sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan dan khususnya oleh lingkungan sosial.  Rogers tidak memberikan jadwal waktu tahap-tahap penting yang dilalui orang pada masa bayi hingga masa dewasa. Namun, ia memusatkan perhatian paada cara-cara bagaimana penilaian orang-orang pada individu, khususnya selama masa kanak-kanak, cenderung memisahkan pengalaman-pengalaman organisme dan pengalaman-pengalaman diri. Apabila penilaian-penilaian ini semata-mata bernada positif, yang oleh Rogers disebut unconditional positive regard atau penghargaan positif tanpa syarat, maka tidak akan terjadi ketidaksesuaian antara organisme dan diri.Sedikit demi sedikit sepanjang masa kanak-kanak, konsep diri menjadi semakin menyimpang justru disebabkan karena penilaian orang-orang lain. Akibatnya, suatu pengalaman organismik yang tidak selaras dengan konsep diri yang tak wajar ini akan dirasakan sebagai suatu ancaman dan menimbulkan kecemasan. Untuk melindungi keutuhan konsep diri, maka pengalaman-pengalaman yang mengancam ini tidak akan dilambangkan atau diberi suatu perlambangan yang menyimpang.Menyangkal suatu pengalaman tidak sama dengan mengabaikannya. Menyangkal  berarti memalsukan realitas baik dengan menyatakannya tidak ada atau dengan mempersepsikannya secara menyimpang. Apabila individu mempersepsikan dan menerima segala pengalaman sensorik dan  viskeralnya kedalam satu sistem yang konsisten dan terintegrasi, maka ia pasti lebih memahami orang-orang lain dan lebih menerima orang lain sebagaai individu-individu yang berbeda.Mengakhiri uraian tentang ciri-ciri pokok teori Rogers, mungkin masih terdapat keheranan, mengapaa teori tersebut dinamakan person concered atau berpusat pada pribadi, bukan pada organismik concered atu berpusat pada organisme.  Jawabanya sangat sederhana. Dalam individu yang berfungsi sepenuhnya, sang pribadi adalah juga si organisme. Dengan kata lain, sama sekali tidak ada perbedaan antara kedua istilah tersebut. Istilah pribadi lebih disukai karena lebih bermakna psikologis. Pribadi adalah organisme yang mengalami. Pribadi dan diri adalah juga sama apabila diri benar-benar kongruen dengan organisme. Kesimpulannya, organisme sebagai suatu sistem yang hidup, bertumbuh, dan bersifat holistik merupakan realitas pssikologis dasar. Setiap bentuk penyimpangan dari realitas dasar ini akan mengancam integritas pribadi yang bersangkutan.  C.   Aplikasi Metode Teori Psikoterapi yang Dikemukakan Oleh Carl Rogers.Rogers memiliki pengaruh besar dalam praktek psikotrapi. Dalam terapi Rogers, terapis cendrung bersifat sportif dan tidak mengarahakan. Terapis beremapti terhadap klien dan memberikan penghargaan yang tulus. Selama berkecimpung di bidang konseling anak dan psikologi klinis, rogers menyadari bahwa klienlah yang paling memahami letak permasalahan dan aarah terapi seharusnya berlangsung. Rogers juga memadang orang sebagai sebuah proses perubahan sekumpulan potensi.
Rogers juga berpendapat bahwa ada dua kondisi utama yang diperlukan agar tercipta perubahan kepribadian dalam psikotrapis :Pertama, terapis harus bias memperlihatkan perhatian yang tulus terhadap klien.Kedua, terapis memiliki pemahaman yang empatis dalam arti terapis harus bisa merasakan ketegangan dan perasaan yang dirasaankan kliennya.Yang menarik dari metode Rogers ialah selain teknik dan prosedurnya itu sendiri ada juga keberanian Rogers untuk merekam proses wawancara dalam psikotrapinya untuk kemudian membahasnya bersama teman-teman sejawatnya atau mahasiswanya. Di masa lalu keterbukaan semacam ini masih langka dan langkah-langkah Rogers dianggap sebagai printis untuk kemajuan pengembangan metode psikotrapi.Dalam dunia psikologi Rogers selalu dihubungkan dengan metode psikoterapi yang dikemukakan dan dikembangkannya ini menjadi popular karena:1.  Secara historis lebih terikat kepada psikologi dari pada kedokteran.2.  Mudah dipelajari.3.  Untuk mempergunakannya dibutuhkan sedikit atau tanpa pengetahuan mengenai diagnosis dan dinamika kepribadian.4.    Lamanya perawatan lebih singkat jika dibandingkan misalnya dengan terapi secara psikoanalistis.Dasar dari teknik ini adalah manusia mampu memulai sendiri arah perkembangannya dan menciptakan  kesehatan dan menyesuaikannya. Sebab itu, konselor harus mempergunakan teknisnya untuk memajukan tendensi perkembangan klien tidak secara langsung tetapi dengan menciptakan kondisi perkembangan yang positif dengan cara permisif. Konselor sebanyak mungkin membatasi diri dengan tidak memberikan nasihat, pedoman, kritik, penilaian, tafsiran, rencana, harapan, dan sebagainya.Dengan cara ini, konselor dapat membantu klien untuk mengemukakan pengertiannya dan rencana hidupnya. Untuk memungkinkan pemahaman ini konselor diharapkan bersifat dan bersikap:1.  Menerima (Acceptance) : Sikap terapis yang ditujukan agar klien dapat melihat dan mengembangkan diri apa adanya.2.  Kehangatan (Warmth) : Ditujukan   agar  klien   merasa  aman   dan memiliki penilaian yang lebih positif tentang dirinya.3.  Tampil apa  adanya (Genuine) : Kewajaran yang perlu ditampilkan oleh terapis agar klien memiliki sikap positif.4.  Empati (Emphaty) : Menempatkan diri dalam kerangka acuan batiniah (internal frame  of reference),  klien   akan memberikan manfaat besar dalam memahami diri dan problematikanya.5.  Penerimaan tanpa  syarat (Unconditional positive  regard) : Sikap penghargaan tanpa tuntutan yang ditunjukkan terapis pada klien, betapapun  negatif perilaku atau sifat klien, yang kemudian sangat bermanfaat dalam pemecahan masalah.6.  Transparansi (Transparancy) : Penampilan  terapis  yang transparan atau tanpa topeng pada saat terapi berlangsung maupun dalam kehidupan keseharian merupakan hal yang penting bagi klien untuk mempercayai dan menimbulkan rasa aman terhadap segala sesuatu yang diutarakan.7.  Kongruensi (Congruence) : Konselor   dan  klien  berada pada hubungan yang sejajar dalam relasi terapeutik yang sehat. Terapis bukanlah orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari kliennya.Kondisi-kondisi yang memungkinkan klien mengubah  diri secara konstruktif mengharuskan klien dan terapis berada dalam kontak psikologis. Dengan demikian, akan dapat dilihat perubahan yang terjadi dalam proses terapi antara lain :1. Klien akan mengekspresikan pengalaman dan perasaannya tentang kehidupan, dan problem yang dihadapi.2. Klien akan berkembang menjadi orang yang dapat menilai secara tepat makna perasaannya.3.  Klien mulai merasakan self concept antara dirinya dan pengalaman mereka.4.  Klien sadar penuh akan perasaan yang mengganggu.5.  Klien mampu mengenal konsep diri dengan terapi yang tidak mengancam.6.  Ketika terapi dilanjutkan, konsep dirinya menjadi congruence.7. Mereka mengembangkan kemampuan dengan pengalaman yang dibentuk oleh unconditional positive regard.8.   Mereka akan mengevaluasi pengalaman-pengalamannya sehingga mampu berelasi sosial dengan baik.9.   Mereka menjadi positif dalam menghargai diri sendiri.Setelah terapi, klien akan mendapatkan insight secara mendalam terhadap diri dan permasalahannya.1.   Mereka menjadi terbuka terhadap pengalaman dan perasaannya sendiri.2.   Dalam pengalamannya sehari-hari mereka bisa mentransendensikan, jika diperlukan.3.   Mereka menjadi kreatif. Mereka merasa dalam hidup menjadi lebih baik, juga dalam    hubungan dengan orang lain.                      D.   Aplikasi Teori Humanistik Terhadap Pembelajaran SiswaAplikasi teori humanistic lebih menunjuk pada ruh atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode- metode yang diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para siswa, yang memberikan motivasi dan kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.Siswa berperan sebagai pelaku utama ( student center ) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Tujuan pembelajaran lebih kepada proses belajarnya daripada hasil belajar.
Pembelajaran berdasarkan teori humanistic ini cocok diterapkan untuk materi- materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Indicator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang, bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri.
                 E.   Kelemahan Teori RogersKelemahan atau kekurangan pandangan Rogers terletak pada perhatiannya yang semata- mata melihat kehidupan diri sendiri dan bukan pada bantuan untuk pertumbuhan serta perkembangan orang lain. Rogers berpendapat bahwa orang yang berfungsi sepenuhnya tampaknya merupakan pusat dari dunia, bukan seorang partisipan yang berinteraksi dan bertanggung jawab di dalamnya.Selain itu, gagasan bahwa seseorang harus dapat memberikan respons secara realistis terhadap dunia sekitarnya masih sangat sulit diterima. Semua orang tidak bisa melepaskan subyektivitasnya dalam memandang dunia karena kita sendiri tidak tahu dunia itu secara obyektif.
Rogers juga mengabaikan aspek- aspek sadar dalam tingkah laku manusia karena ia lebih melihat pada pengalaman masa sekarang dan masa depan, bukannya pada masa lampau yang biasanya penuh dengan pengalaman traumatic yang menyebabkan seseorang mengalami suatu penyakit psikologis.Selain kelemahanyang telah diuraikan di atas, ada beberapa argumantasi mengenai kritik dari teori humanistik, yaitu sebagai berikut :1.   Teori humanistik terlalu optimistik secara naif dan gagal untuk memberikan pendekatan pada sisi buruk dari sifat alamiah manusia2.   Teori humanistik, seperti halnya teori psikodinamik, tidak bisa diuji dengan mudah3.    Banyak konsep dalam psikologi humanistik, seperti misalnya orang yang telah berhasil mengaktualisasikan dirinya, ini masih buram dan subjektif. Beberapa kritisi menyangkal bahwa konsep ini bisa saja mencerminkan nilai dan idealisme Maslow sendiri,
4.  Psikologi humanistik mengalami pembiasan terhadap nilai individualistis          F.    Teknik Konseling, Teori Rogers
Menurut Rogers, dalam teknik ini ingin diciptakan suasana pembicaraan yang permisif. Dasar dari teknik ini adalah manusia mampu memulai sendiri arah perkembangannya dan menciptakan kesehatan dan menyeesuaikannya. Sebab itu, konselor harus mempergunakan teknisnya untuk memajukan tendensi perkembangan helpee tidak secara langsung tetapi dengan menciptakan kondisi perkembangan yang positif dengan cara permisif. Konselor sebanyak mungkin membatasi diri dengan tidak memberikan nasihat, pedoman, kritik, penilaian, tafsiran, rencana, harapan, dan sebagainya. Dengan cara ini, konselor dapat membantu helpee untuk mengemukakan pengertiannya dan rencana hidupnya. Untuk memungkinkan pemahaman ini konselor diharapkan bersifat dan bersikap :a) Menerima (Acceptance). Sikap terapis yang ditujukan agar helpee dapat melihat dan mengembangkan diri apa adanya.b) Kehangatan (Warmth). Ditujukan agar helpee merasa aman dan memiliki penilaian yang lebih positif tentang dirinya.c) Tampil apa adanya (Genuine). Kewajaran yang perlu ditampilkan oleh terapis agar helpee memiliki helpee positif.d) Empati (Emphaty). Menempatkan diri dalam kerangka acuan batiniah (internal frame of reference), helpee akan memberikan manfaat besar dalam memahami diri dan problematikanya.e) Penerimaan tanpa syarat (Unconditional positive regard). Sikap penghargaan tanpa tuntutan yang ditunjukkan terapis pada helpee, betapapun negatif perilaku atau sifat helpee, yang kemudian sangat bermanfaat dalam pemecahan masalah.f) Transparansi (Transparancy). Penampilan terapis yang transparan atau tanpa topeng pada saat terapi berlangsung maupun dalam kehidupan keseharian merupakan hal yang penting bagi helpee untuk mempercayai dan menimbulkan rasa aman terhadap segala sesuatu yang diutarakan.g) Kongruensi (Congruensi). Konselor dan konseli berada hubungan sejajar dalam relasi terapeutik yang sehat. Terapis bukanlah orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari helpeenya.  BAB IIIPENUTUP A.    KesimpulanDapat disimpulkan bahwa Teori Humanistik lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia atau individu.  Psikolog humanistik mencoba untuk melihat kehidupan manusia sebagaimana manusia melihat kehidupan mereka. Mereka berfokus pada kemampuan manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional untuk dalam mengendalikan hasrat biologisnya, serta dalam meraih potensi maksimal mereka. Dalam pandangan humanistik,  manusia bertanggung  jawab terhadap hidup  dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka. B.     SaranKelemahan atau kekurangan pandangan Rogers terletak pada perhatiannya yang semata-mata melihat kehidupan diri sendiri dan bukan pada bantuan untuk pertumbuhan serta perkembangan orang lain. Rogers berpandangan bahwa orang yang berfungsi sepenuhnya tampaknya merupakan pusat dari dunia, bukan seorang partisipan yang berinteraksi dan bertanggung jawab di dalamnya.Selain itu gagasan bahwa seseorang harus dapat memberikan respon secara realistis terhadap dunia sekitarnya masih sangat sulit diterima. Semua orang tidak bisa melepaskan subjektivitas dalam memandang dunia karena kita sendiri tidak tahu dunia itu secara objektif.
Rogers juga mengabaikan aspek-aspek tidak sadar dalam tingkah laku manusia karena ia lebih melihat pada pengalaman masa sekarang dan masa depan, bukannya pada masa lampau yang biasanya penuh dengan pengalaman traumatik yang menyebabkan seseorang mengalami suatu penyakit psikologis.Disini melihat dari kelemahan pandangan Rogers yang bisa dijadikan masukan sebagai penyempurnaan pandangan Rogers yang berfokus pada diri.     DAFTAR PUSTAKAhttp://eskarinaputri.blogspot.com/2012/05/makalah-teori-humanistik-carl-rogers.htmlhttp://kristianawidi.blogspot.com/2012/02/makalah-teori-humanistik-carl-rogers.html 

makalah pengembangan karir

BAB IPENDAHULUAN 1.1 Latar BelakangKonsep karir adalah konsep yang netral, oleh sebab itu terdapat karir yang baikdan terdapat pula karir yang buruk. Ada perjalanan karir yang lambat, ada pula yang cepat. Tetapi, tentu saja semua orang mendambakan memiliki karir yang baik dan bila mungkin bergulir dengan cepat. Karir dapat diletakkan dalam konteks organisasi secara formal, tetapi karir dapat pula diletakkan dalam konteks yang lebih longgar dan tidak formal. Dalam kaitan arti yang terakhir ini, kita biasa mengatakan, misalnya, “karir si A sebagai pelukis cukup baik” dan si B mengakhiri karirnya di bidang politik secara baik”, dan sebagainya.Sementara, Manajemen karir dapat diartikan sebagai proses pengelolaan karir pegawai yang meliputi tahapan kegiatan perencanaan karir, pengembangan dan konseling karir, serta pengambilan keputusan karir. Manajemen karir melibatkan semua pihak termasuk pegawai yang bersangkutan dengan unit tempat si pegawai bekerja, dan organisasi secara keseluruhan. Oleh karena itu manajemen karir mencakup area kegiatan yang sangat luas. Sedangkan Perencanaan karir adalah perencanaan yang dilakukan baik oleh individu pegawai maupun oleh organisasi berkenaan dengan karir pegawai, terutama mengenai persiapan yang harus dipenuhi seorang pegawai untuk mencapai tujuan karir tertentu. Yang perlu digarisbawahi, perencanaan karir pegawai harus dilakukan oleh kedua belah pihak yaitu pegawai yang bersangkutan dan organisasi. Jika tidak, maka perencanaan karir pegawai tidak akan menghasilkan rencana yang baik dan realistis.Pengembangan karir adalah proses mengidentifikasi potensi karir pegawai, dan materi serta menerapkan cara-cara yang tepat untuk mengembangkan potensi tersebut.Secara umum, proses pengembangan karir dimulai dengan mengevaluasi kinerja pegawai. Proses ini lazim disebut sebagai penilaian kinerja (performance appraisal). Dari hasil penelitian kinerja ini kita mendapatkan masukan yang menggambarkan profil kemampuan pegawai (baik potensinya maupun kinerja aktualnya). Dari masukan inilah kita mengidentifikasi berbagai metode untuk mengembangkan potensi yang bersangkutan. 1.2 Rumusan MasalahPerumusan masalah dalam penulisan ini adalah mengenai soal-soal yang mengikuti kasus di atas. Selanjutnya di bawah ini akan diuraikan kembali mengenai soal-soal yang mengikuti studi kasus tersebut, antara lain :
1)      Bagaimana peran Carol dalam pengembangan karir Walter sekarang? Haruskan larchmont memiliki peran demikian ?2)      Saran apa yang akan ditawarkan kepada Carol untuk mendekat Walter ?3)      Bila Carol harus memberhentikan Walter, bagaimana saran  secara khusus tentang apa yang haris dikerjakan Carol ?4)      Asumsikan bahwa carol telah mendengar desas –desus bahwa Walter telah mempertimbangkan untuk mengundurkan diri. Apa yang harus dilakukan atas hal itu ? 1.3Tujuan dan ManfaatTujuan dari penulisan ini adalah:a.       Mendalami pengetahuan tentang manajemen karir melalui studi kasus yang menjadi pokok materi
b.      Mendalami kebutuhan dari perencanaan dan pengembangan karir menurut studi kasus yang menjadi pembahasan.
Manfaat dari penulisan ini adalah:a.       Mendapatkan gambaran tentang manajemen karir secara praktis sesuai dengan studi kasus yang diberikan.
b.      Mandapatkan pemahaman tentang pentingnya perencanaan dan pengembangan karir menurut studi kasus yang diberikan.
 1.4Metodologi PenulisanMetode yang digunakan untuk memenuhi penyusunan penulisan ini adalah :
a.     Studi kepustakaan
b.     penelusuran website BAB IIPEMBAHASAN  2.1 Pengembangan Karir
Pengembangan karir (career development) menurut Mondy dalam situs jurnalsdm.blogspot meliputi “Aktivitas-aktivitas untuk mempersiapkan seorang individu pada kemajuan jalur karir yang direncanakan.” Selanjutnya ia berpendapat pula bahwa ada beberapa prinsip pengembangan karir yang dapat dijelaskan sebagai berikut :a.     Pekerjaan itu sendiri mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pengembangan karir. Bila setiap hari pekerjaanmenyajikan suatu tantangan yang berbeda, apa yang dipelajari di pekerjaan jauh lebih penting daripada aktivitas rencana pengembangan formal.b.     Bentuk pengembangan skill yang dibutuhkan ditentukan oleh permintaan pekerjaan yang spesifik. Skill yang dibutuhkan untuk menjadi supervisorakan berbeda dengan skill yang dibutuhkan untuk menjadi middle manager.c.      Pengembangan akan terjadi hanya jika seorang individu belum memperoleh skill yang sesuai dengan tuntutan pekerjaan. Jika tujuan tersebut dikembangkan lebih lanjut oleh seorang individu maka individu yang telah memiliki skill yang dituntut pekerjaan akan menempati pekerjaan yang baru.d.     Waktu yang digunakan untuk pengembangan dapat direduksi/dikurangi dengan mengidentifikasi rangkaian penempatan pekerjaan individu yang rasional. (Mondy,1993 dalam situs jurnalsdm.blogspot) Pengembangan karir (career development) meliputi perencanaan karir(career planning) dan manajemen karir (career management). Memahami pengembangan karir dalam sebuah organisasi membutuhkan suatu pemeriksaan atas dua proses, yaitu bagaimana masing-masing individu merencanakan dan menerapkan tujuan-tujuan karirnya (perencanaan karir) dan bagaimana organisasi merancang dan menerapkan programprogram pengembangan karir/manajemen karir. Manajemen karir (career management) adalah proses dimana organisasi memilih, menilai, menugaskan, dan mengembangkan para pegawainya guna menyediakan suatu kumpulan orangorang yang berbobot untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan di masa yang akan datang. (Simamora, 2001dalam jurnalsdm.blogspot) 2.2 Manajemen KarirManajemen karir merupakan proses berkelanjutan dalam penyiapan, penerapan, dan pemantauan rencana-rencana karir yang dilakukan oleh individu seiring dengan sistem karir organisasi. Menurut Dessler (2010) kegiatan personalia seperti penyaringan, pelatihan, dan penilaian berfungsi untuk dua peran dasar dalam organisasi, yaitu :a.       Peran pertama, peran tradisional adalah menstafkan organisasi mengisi posisi-posisinya dengan karyawan yang mempunyai minat, kemampuan dan keterampilan yang memenuhi syarat;b.      Peran kedua adalah memastikan bahwa minat jangka panjang dari karyawan dilindungi oleh organisasi dan bahwa karyawan didorong untuk bertumbuh dan merealisasikan potensinya secara penuh. Anggapan dasar yang melandasi peran ini adalah bahwa majikan memiliki suatu kewajiban untuk memanfaatkan kemampuankemampuan karyawan secara penuh dan memberikan kepada semua karyawan suatu kesempatan untuk bertumbuh dan merealisasikan potensinya secara penuh serta berhasil dalam mengembangkan karirnya. Kegiatan-kegiatan personalia, penyaringan, dan pelatihan memainkan peranan penting dalam proses pengembangan karir. Perencanaan personalia dapat digunakan tidak hanya untuk meramal jabatan yang kosong melainkan juga untuk mengidentifikasi calon-calon internal yang potensial dan pelatihan yang diperlukan untuk mengisi jabatan - jabatan tersebut. Suatu organisasi dapat menggunakan penilaian-penilaian karyawan berkalanya  tidak hanya untuk keputusan gajimelainkan juga mengidentifikasi kebutuhan  pengembangan darikaryawan individual dan memastikan bahwa kebutuhankebutuhan tersebut dapat tercapai. Semua kegiatan penstafan, dengan kata lain, dapat digunakan untuk memuaskan kebutuhan baik organisasi maupunindividu sedemikian rupa sehingga organisasi mendapatkan kinerja yang diperbaiki dari angkatan kerja yang lebih bertanggungjawab serta karyawan mendapatkan suatu karir yang lebih meyakinkan dan lebih menantang.Menurut Soetjipto, dkk (2002) dalam situs jurnalsdm.blogspot program manajemen karir meliputi konseling karyawan, melacak pekerjaan, keahlian, dan pengalaman relevan lainnya dari karyawan, menawarkan workshop dalam perencanaan karir dan kehidupan, menekankan penilaian kinerja yang bersifatpengembangan dan mengadakan pusat penilaian. Aktivitas perencanaan karir terfokus pada membantu perencanaan karir individu, menyediakan nasehat untuk membantu individu secara efektif berpindah di dalam organisasi, dan membentukaneka urutan pekerjaan atau jalur karir bagi karyawan. 2.3 Perencanaan KarirMelalui perencanaan karir, setiap individu mengevaluasi kemampuan dan minatnya sendiri, mempertimbangkan kesempatan karir alternatif, menyusun tujuan karir, dan merencanakan aktivitas-aktivitas pengembangan praktis. Fokus utama dalam perencanaan karir haruslah sesuai antara tujuan pribadi dan kesempatan-kesempatan yang secara realistis tersedia.(Mondy, 1993 dalam jurnalsdm.blogspot). Pada dasarnya perencanaan karir terdiri atas dua elemen utama yaitu perencanaan karir individual (individual career planning) dan perencanaan karir organisasional (organizational career planning).Perencanaan karir individual dan organisasional tidaklah dapat dipisahkan dan disendirikan. Seorang individu yang rencana karir individualnya tidak dapat terpenuhi di dalam organisasi, cepat atau lambat individu tersebut akan meninggalkan perusahaan. Oleh karena itu, organisasi perlu membantu karyawan dalam perencanaan karir sehingga keduanya dapat saling memenuhi kebutuhan.Perencanaan karir individual terfokus pada individu yang meliputi latihan diagnostik, dan prosedur untuk membantu individu tersebut menentukan “siapa saya” dari segi potensi dan kemampuannya. Prosedur ini meliputi suatu pengecekan realitas untuk membantu individu menuju suatu identifikasi yang bermakna dari kekuatan dan kelemahannya dan dorongan memimpin kekuatan dan mengoreksi kelemahan.   Dengan demikian perencanaan karir individual meliputi :a.       penilaian diri untuk menentukan kekuatan, kelemahan, tujuan, aspirasi, preferensi, kebutuhan, ataupun jangkar karirnya (career anchor),b.      penilaian pasar tenaga kerja untuk menentukan tipe kesempatan yang tersedia baik di dalam maupun di luar organisasi,c.       penyusunan tujuan karir berdasarkan evaluasi diri,d.      pencocokan kesempatan terhadap kebutuhan dan tujuan serta pengembangan strategi karir,e.       perencanaan transisi karir. Menurut Simamora (2001) dalam jurnalsdm.blogspot, “individu merencanakan karir guna meningkatkan status dan kompensasi, memastikan keselamatan pekerjaan, dan mempertahankan kemampupasaran dalam pasar tenaga kerja yang berubah. Disisi lain, organisasi mendorong manajemen karir individu karena ingin mengembangkan dan mempromosikan karyawan dari dalam perusahaan, mengurangi kekurangan tenaga berbakat yang dapat dipromosikan, menyatakan minat pada karyawan, meningkatkan produktivitas, mengurangi turnover karyawan, memungkinkan manajer untuk menyatakan minat pribadi terhadap bawahannya, menciptakan cita rekrutmen yang positif.”
  
BAB III
PENUTUP 3.1 KesimpulanMelalui uraian pembahasan tentang kasus di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa manajemen karir harus melibatkan semua pihak termasuk pegawai yang bersangkutan dengan unit tempat si pegawai bekerja, dan organisasi secara keseluruhan. Oleh karena itu manajemen karir mencakup area kegiatan yang sangat luas. Pentingnya manajemen karir bagi karyawan adalah untuk meningkatkan potensi dan produktifitas bagi kemajuan dirinya, sedangkan bagi perusahaan adalah untuk merencanakan SDM mereka dalam meningkatkan nilai bisnis perusahaan dan kompetisi bisnis. 3.2 Sarana.     Banyak karyawan perusahaan yang tidak mampu berkompetisi bahkan mundur dari posisinya karena emosi, kemampuan, dan pengetahuan mereka yang belum mendukung. Perusahaan sebagai tempat mengembangkan ide dan potensi karyawan sangat berperan dalam mengarahkan karir pegawainya supaya dapat berkembang sesuai dengan potensi karyawannya. Oleh karena itu perusahaan diharapkan tidak hanya mengejar profit bagi bisnisnya saja namun berusaha meningkatkan kemampuan dan pengetahuan karyawan mereka.b.     Dalam organisasi, terdapat berbagai masalah yang berhubungan dengan karir pegawai. Ada yang tidak terlampau serius sehingga dapat dipecahkan dalam tempo relatif cepat. Ada pula yang sangat serius sehingga mengganggu pekerjaan si pegawai sendiri maupun pekerjaan rekan sekerja lainnya. Dalam keadaan seperti ini, konseling karir sangat diperlukan, baik oleh pegawai maupun oleh organisasi. Bahkan organisasi yang cukup besar seringkali merasa perlu mempekerjakan seorang pakar (konselor) yang khusus menangani masalah-masalah karir ini.
DAFTAR PUSTAKA Dessler, Garry. 2010. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Kesepuluh Jilid 1. Jakarta : Indeks. Dessler, Garry. 2010. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Kesepuluh Jilid 2. Jakarta : Indeks.